Salah satu tonggak penting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia diabadikan oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, sejarawan Universitas Padjajaran Bandung dalam buku Api Sejarah Jilid 2 dengan narasi berikut, “Setelah Resolusi Jihad Nadhlatul Ulama, 22 Oktober 1945, Senin Pahing, 15 Dzulqaidah 1364, di Surabaya, berkembang menjadi Resolusi Jihad Partai Politik Islam Masyumi, 7 November 1945, Rabu Pon 1 Dzulhijjah 1364, pengaruhnya membangkitkan semangat 60 Miliun Kaum Muslimin Indonesia siap berjihad Fi Sabilillah,”
Resolusi Jihad untuk mempertahankan dan menegakkan agama, kedaulatan negara Republik Indonesia Merdeka menurut hukum agama Islam sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam, merupakan peristiwa yang tak terlupakan dalam sejarah negara kita. Pemerintah sejak 2015 menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Hari Santri diperingati di seluruh Indonesia dan bukan merupakan hari libur.
Peringatan Hari Santri mengandung pesan mendalam tentang marwah pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan pada umumnya sebagai salah satu fondasi peradaban bangsa. Pesantren mendapat perhatian besar dari negara, selain karena perannya dalam perjuangan kemerdekaan, juga karena fungsi pesantren dalam tiga ranah yaitu pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Pesantren dengan segenap kategorisasinya merupakan pilar kebangkitan peradaban umat Islam. Pilar lainnya ialah masjid dan kampus perguruan tinggi. Pesantren, masjid dan kampus mempunyai fungsi strategis dalam pembinaan umat dan bangsa.
Mohammad Natsir (1908 – 1993), Perdana Menteri RI tahun 1950- 1951 dan Wakil Presiden Muktamar Alam Islami, mengatakan bahwa pesantren, masjid dan kampus adalah modal utama dan unsur pembinaan umat, masyarakat dan negara. Moh. Natsir menggambarkan betapa kekuatan yang dapat terbangun bila pesantren bertemu dengan universitas, secara simbolik saling “berjumpa” di masjid. Pada hakikatnya bertemu dalam pengabdian kepada Allah. Dalam rangka menata potensi umat, mengangkat harkat dan kualitas umat, kaum intelektual harus bergandengan tangan dengan basis umat di pesantren-pesantren.
Dalam Islam, tidak ada dikotomi antara urusan agama dan urusan duniawi. Sejalan dengan pandangan di atas, spirit Hari Santri sejatinya dapat menjembatani antara ulama dalam definisi kultural dengan intelektual muslim yang dalam Al-Quran disebut “ulul albab”, orang yang mempunyai daya pikir dan daya cipta. Semua ilmu berasal dari sumber yang satu yaitu Allah, maka semua ilmu pada hakikatnya adalah islami.
Pendidikan Islam sebagai institusi dan sistem adalah entitas yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia. Dalam Islam, pendidikan adalah manifestasi perintah Allah untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, kemungkaran, membina peradaban dan akhlak mulia. Dengan kata lain, pendidikan dalam Islam merangkum tiga fungsi, yaitu tarbiyah, taklim, dan takdib (adab). Inilah ciri khas konsep risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw dalam membangun peradaban dunia.
Salah satu fungsi yang mengesankan dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia dalam hubungannya dengan gema Hari Santri ialah peran pesantren dalam transformasi sosial yang memperbaiki peradaban. Menurut sejarahnya, ulama besar Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 mendirikan Pondok Pesantren di Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, padahal waktu itu bukan tempat yang ideal bagi sebuah pesantren. Tebuireng kala itu merupakan daerah kelam, banyak premanisme, dan perilaku buruh pabrik gula yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pada awal pendirian pondoknya sang kiyai harus menghadapi teror dan gangguan fisik dari lingkungan yang menolak kehadiran Pondok Pesantren Tebuireng.
Pengalaman serupa dialami K.H. Ahmad Dahlan sewaktu mengadakan dakwah dan pengajian serta kegiatan sosial yang belum pernah ada sebelum tahun 1912 hingga mendirikan persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta. Semula Muhammadiyah ditolak oleh masyarakat sekitarnya bahkan dituduh memecah persatuan umat dan membentuk agama baru. Berkat kegigihan dan keikhlasan para perintis yang pemikirannya melampaui zaman hidupnya ketika mencetuskan dakwah sejak era Wali Songo sampai lahirnya berbagai organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan, menjadi teladan berharga bagi umat.
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, pesantren melahirkan organisasi, begitu pula dalam sejarah Muhammadiyah, dakwah melahirkan organisasi. Sejarah organisasi keagamaan Islam di negeri ini, termasuk organisasi Islam yang lainnya di berbagai wilayah sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya, memberi pelajaran kepada generasi masa kini bahwa perjuangan membangun umat itu tidak parsial, melainkan integral dan berkelanjutan sesuai tantangan zamannya.
Pesantren sebagai institusi pendidikan agama berperan sebagai kekuatan transformasi sosial yang mampu merubah lingkungan menjadi lebih baik sebagaimana dibuktikan dalam sejarah. Setiap tahun, puluhan ribu, mungkin lebih, lulusan pesantren dan kampus perguruan tinggi negeri dan swasta, umum dan agama, dilepas memasuki gelanggang masyarakat yang lebih luas dibanding lingkungan pesantren dan kampus.
Strategi pembangunan yang mengintegrasikan capaian kemajuan fisik material dan mental spiritual sesuai ajaran Islam dibutuhkan bangsa kita dewasa ini. Pembangunan berlandaskan keselarasan hubungan manusia dengan Allah, hubungan antarsesama manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta, adalah jawaban agama terhadap berbagai krisis yang terjadi. Strategi pembangunan yang tidak pincang antara dimensi lahiriah dan dimensi rohaniah perlu dikembangkan lebih lanjut dan bisa menjadi role model. Saya kira di situlah sumbangan terbesar santri dan alim ulama bagi pembangunan Indonesia dan dunia abad dua puluh satu. Peradaban yang unggul haruslah dibangun dengan pendidikan dan pengetahuan.
Seiring dengan pesan peringatan Hari Santri tanggal 22 Oktober 2025, mari kita satukan energi untuk senantiasa memajukan lembaga pendidikan pesantren, memberdayakan peran masjid dan kampus, sebagai pilar kebangkitan umat yang diharapkan mewarnai peradaban modern. Dari resolusi jihad ke resolusi peradaban adalah sebuah penjalanan penting bangsa Indonesia. Untuk itu peringatan Hari Santri diharapkan meneguhkan pembangunan manusia Indonesia, “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”, sesuai seruan lagu kebangsaan kita. Wallahu a’lam bisshawab.
M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag)
sumber : https://kemenag.go.id/opini/dari-resolusi-jihad-ke-resolusi-peradaban-k1oWE