الحمد لله الذي خلق الإنسان من نطفة أمشاج، وسخر له ما في السماوات وما في الأرض جميعًا منه. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم،
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan sebenar-benar takwa; dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hanya dengan ketakwaan, hidup kita akan mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi.
Jama‘ah Jumat yang dimuliakan Allah,
Manusia diciptakan Allah melalui rahim ibu kandung, sebuah tempat suci yang penuh kasih sayang dan perlindungan. Di dalam rahim itulah Allah membentuk tubuh, menumbuhkan kehidupan, dan menanamkan fitrah kemanusiaan dalam diri setiap insan.
Namun setelah keluar dari rahim ibu, manusia tidak dibiarkan hidup tanpa tempat bernaung. Sejak saat itu, kita langsung memasuki rahim kedua, yaitu ingkungan hidup kita. Alam semesta inilah rahim besar yang menampung seluruh makhluk, menyediakan udara untuk dihirup, air untuk diminum, dan tanah untuk ditumbuhi kehidupan.
Saudara-saudaraku,
Lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sistem kehidupan yang Allah ciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Ketika keseimbangan itu dijaga, alam menjadi sumber rahmat. Namun ketika manusia serakah dan lalai, rahim kehidupan ini menjadi rusak dan melahirkan bencana.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ…
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Hari ini, kita menyaksikan betapa rahim kedua kita — bumi dan lingkungan — sedang porak-poranda. Hutan ditebangi tanpa kendali, sungai dicemari, udara dipenuhi asap, dan laut menjadi tempat pembuangan sampah. Kerusakan itu kembali kepada kita dalam bentuk bencana alam, kekeringan, banjir, penyakit, dan kelaparan.
Padahal Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, pemegang amanah untuk menjaga dan memakmurkannya, bukan merusaknya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)
Menjaga alam berarti menjaga rahim kehidupan yang memberi kita napas dan sumber kehidupan. Menanam satu pohon sama artinya dengan memperpanjang umur bumi. Menghemat air berarti menyelamatkan generasi. Dan mengurangi sampah berarti menjaga udara serta tanah yang kita warisi kepada anak cucu.
Ma‘asyiral muslimin,
Kita sering lupa bahwa merusak alam sama dengan menzalimi diri sendiri dan keturunan kita. Sebaliknya, menjaga alam adalah wujud nyata dari syukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang Ia anugerahkan. Sebab siapa yang bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmatnya; namun siapa yang kufur, azab Allah amat pedih.
Oleh karena itu, marilah kita mulai memperbaiki hubungan kita dengan alam sebagaimana kita berbakti kepada ibu kandung kita. Karena dari rahim ibu kita lahir, dan dari rahim alam kita hidup. Keduanya wajib kita muliakan, kita jaga, dan kita lestarikan alam di sekitar kita.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا, أَمَّا بَعْدُ,
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ ْوَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ َأَكْبَرْ.
Prof. Dr. M. Ishom El Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)
sumber : https://kemenag.go.id/islam/dari-rahim-ibu-kandung-kita-masuk-rahim-alam-semesta-wpUzM